Hindari Gaya Hidup Konsumtif Berlebihan Selama Ramadhan: Pesan Penting dari Ketum MUI

Hindari Gaya Hidup Konsumtif Berlebihan Selama Ramadhan: Pesan Penting dari Ketum MUI

Bayangkan kalau bulan Ramadhan yang seharusnya penuh berkah justru berubah jadi ajang belanja gila-gilaan. Buka puasa mewah, beli baju baru setiap minggu, atau bahkan berburu takjil sampai lupa esensi puasa. Nah, baru-baru ini Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Anwar Iskandar, mengingatkan kita semua untuk hindari gaya hidup konsumtif berlebihan selama Ramadhan. Pesannya sederhana tapi dalam: nikmati hidup, tapi jangan sampai lupa batasnya.

Dalam wawancaranya, Kiai Anwar bilang bahwa Islam nggak melarang kita menikmati fasilitas duniawi. Malah, itu bagian dari kebaikan hidup. Tapi, ada garis merah yang harus dijaga agar nggak berlebihan. Dia mengutip ayat Al-Quran yang bilang, “Makan dan minumlah, tapi jangan berlebihan.” Ini jadi reminder kuat buat kita yang sering kalap saat Ramadhan tiba. Apalagi di era sekarang, promo diskon dan iklan makanan bikin godaan makin besar.

Artikel ini bakal bahas kenapa pesan ini penting, dampak buruk kalau kita abaikan, plus tips praktis buat jalani Ramadhan dengan sederhana. Kita juga akan lihat manfaat hidup minimalis menurut Islam, biar puasa tahun ini nggak cuma soal menahan lapar, tapi juga menahan nafsu belanja. Yuk, simak sampai habis supaya Ramadhanmu lebih bermakna!

Apa yang Dimaksud dengan Gaya Hidup Konsumtif Berlebihan?

Gaya hidup konsumtif berlebihan itu seperti virus yang diam-diam menggerogoti kantong dan hati kita. Sederhananya, ini adalah kebiasaan belanja atau mengonsumsi barang dan makanan lebih dari yang dibutuhkan, sering karena dorongan emosional atau pengaruh lingkungan. Di bulan Ramadhan, fenomena ini makin marak. Mulai dari berburu takjil yang berakhir dengan beli segala macam makanan, sampai belanja online pakaian baru buat bukber setiap hari.

Menurut para ahli, perilaku ini dipicu oleh faktor psikologis seperti FOMO (fear of missing out) atau lapar mata setelah seharian puasa. Bayangin aja, setelah azan Maghrib, troli belanjaan penuh, tapi pas makan cuma habis setengah. Ini nggak cuma mubazir, tapi juga bertentangan dengan esensi Ramadhan yang mengajarkan pengendalian diri.

Di Indonesia, riset dari Bank Syariah Indonesia (BSI) menunjukkan bahwa 84,4% masyarakat mengalami peningkatan pengeluaran selama Ramadhan. DKI Jakarta bahkan jadi daerah dengan lonjakan tertinggi. Kenapa? Karena budaya “war takjil” atau bukber mewah sudah jadi tren. Tapi, apakah ini sesuai dengan ajaran Islam? Tentu nggak, karena Islam mendorong keseimbangan, bukan pemborosan.

Paragraf ini mungkin terdengar familiar, tapi coba renungkan: konsumtif berlebihan nggak cuma soal uang, tapi juga soal hati. Kalau kita sibuk belanja, kapan waktunya untuk tadarus atau tarawih? Itu sebabnya, memahami definisi ini adalah langkah pertama buat ubah kebiasaan.

Pesan dari Ketum MUI tentang Konsumtif di Ramadhan

Ketum MUI, KH Anwar Iskandar, baru saja menyampaikan pesan yang bikin kita mikir ulang soal Ramadhan. Beliau bilang, “Agama membolehkan kita menikmati kehidupan ini. Itu bagian dari hasanah di dunia. Tetapi jangan lupa, yang kita kejar juga adalah hasanah di akhirat.” Ini diungkapkan saat beliau bicara dengan MUI Digital pada 28 Februari 2026.

Beliau mengutip Surat Al-A’raf ayat 31: “Wahai orang-orang yang beriman, makan dan minumlah kamu, tapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” Ayat ini jadi dasar utama pesannya. Islam kasih ruang buat nikmati nikmat dunia, tapi dengan batas. Jangan sampai konsumtif kita lukai perasaan orang lain, misalnya bikin iri tetangga yang kurang mampu.

Kiai Anwar juga ingatkan doa dari Al-Quran: “Rabbana atina fid-dunya hasanah wa fil-akhirati hasanah wa qina ‘adhaban-nar.” Artinya, minta kebaikan dunia dan akhirat. Ini reminder bahwa Ramadhan bukan saatnya boros, tapi waktu untuk seimbangkan duniawi dan ukhrawi.

Pesan ini relevan banget di zaman sekarang, di mana media sosial penuh foto bukber mewah. Beliau tegas: “Hidup bermasyarakat itu harus menjaga perasaan orang lain. Jangan sampai sikap berlebihan justru menimbulkan kecemburuan.” Jadi, mari kita ambil hikmahnya: Ramadhan adalah momen moderasi, bukan kompetisi gaya hidup.

Dampak Negatif Gaya Hidup Konsumtif di Bulan Suci

Kalau kita abaikan pesan MUI, apa sih dampaknya? Pertama, dari sisi keuangan, pengeluaran bisa membengkak. Banyak orang yang setelah Lebaran baru sadar tabungan kosong atau tagihan kartu kredit numpuk. Ironis, bulan yang seharusnya hemat malah bikin stres finansial.

Kedua, dampak psikologis. Puasa seharian bikin kita impulsif belanja saat lapar. Efek dopamin dari belanja bikin senang sesaat, tapi afterwards? Makanan mubazir dan penyesalan. Ini paradoks Ramadhan: menahan lapar, tapi malah boros belanja.

Dari perspektif sosial, konsumtif berlebihan bisa bikin kecemburuan. Bayangin tetangga lihat postingan bukber mewahmu, sementara mereka cuma buka dengan sederhana. Ini nggak cuma lukai hati, tapi juga hilangkan esensi puasa sebagai latihan empati.

Lingkungan juga kena imbas. Pemborosan makanan tingkatkan sampah, apalagi di Indonesia yang konsumsi naik drastis saat Ramadhan. Spiritualnya? Puasa jadi sia-sia kalau nafsu konsumsi nggak terkendali. Tingkat taqwa yang seharusnya naik, malah kalah sama gaya hidup.

Intinya, dampak ini berantai: dari kantong kosong sampai hati gelisah. Lebih baik hindari dari sekarang, kan?

Cara Praktis Menghindari Perilaku Konsumtif Selama Ramadhan

Oke, sekarang bagian yang paling berguna: tips praktis! Pertama, buat rencana keuangan khusus Ramadhan. Tentukan anggaran buat takjil, bukber, dan zakat. Ini bantu hindari impuls belanja.

Kedua, bedakan kebutuhan dan keinginan. Butuh makanan bergizi buat sahur? Ya. Ingin beli es kekinian setiap hari? Pikir ulang. Gunakan teknik delay of gratification: tunda beli 24 jam, lihat masih pengen nggak.

Ketiga, kurangi bukber berlebihan. Pilih bukber di rumah atau potluck biar hemat. Atau, tolak undangan dengan sopan kalau sudah overbudget.

Berikut beberapa tips tambahan dalam bentuk list biar mudah diingat:

  • Hindari promo palsu: Jangan tergiur diskon, cek dulu apakah benar-benar butuh.
  • Masak sendiri: Rencanakan menu sahur dan buka, kurangi delivery order.
  • Kurangi media sosial: Paparan konten konsumtif bikin FOMO, batasi scroll.
  • Fokus esensi: Ingat, Ramadhan untuk spiritual, bukan show off.
  • Berbagi lebih: Alihkan dana ke sedekah, rasakan bahagianya.

Dengan tips ini, Ramadhanmu bakal lebih tenang dan berkah. Coba terapkan satu per satu, ya!

Manfaat Hidup Sederhana Menurut Ajaran Islam di Ramadhan

Hidup sederhana bukan berarti miskin, tapi bijak. Menurut Islam, ini ajaran Rasulullah SAW yang hidup minimalis meski bisa kaya. Di Ramadhan, manfaatnya luar biasa.

Pertama, tingkatkan kesadaran spiritual. Puasa ajarkan empati pada yang kurang mampu, bikin hati lebih dekat ke Allah. Kedua, jaga keseimbangan hidup. Nggak sibuk belanja, lebih waktu buat ibadah.

Ketiga, kesehatan mental. Hidup sederhana kurangi stres, hindari utang, dan bikin bahagia sejati. Keempat, latih kesabaran dan istiqomah. Puasa bikin kita biasa hidup tanpa berlebihan.

Kelima, dermawan lebih mudah. Dengan nggak boros, kita bisa sedekah lebih banyak, pahala berlipat di Ramadhan. Rasulullah bilang, sedekah hapus dosa seperti air padam api.

Intinya, hidup sederhana bikin Ramadhan lebih bermakna, sesuai sunnah Nabi.

Contoh Hidup Sederhana di Ramadhan dari Kehidupan Sehari-hari

Mau contoh nyata? Ambil dari kebiasaan sehari-hari. Misalnya, bukber di masjid dengan menu sederhana: kurma, air putih, dan nasi bungkus. Ini hemat dan tambah pahala jamaah.

Atau, belanja takjil: cukup beli yang cukup buat keluarga, nggak perlu segala macam. Alihkan sisa uang ke infak. Contoh lain, pakaian: pakai yang ada, nggak perlu beli baru setiap bukber. Ini sesuai pesan MUI soal moderasi.

Di keluarga, ajak anak-anak masak sahur bersama. Nggak cuma hemat, tapi ajar nilai kesederhanaan. Atau, ganti hangout mall dengan tadarus di rumah. Hasilnya? Ramadhan penuh kedamaian, nggak ada penyesalan pas Lebaran.

Contoh ini mudah diterapkan, dan hasilnya luar biasa buat jiwa dan dompet.

Kesimpulan

Ramadhan adalah momen spesial untuk introspeksi, bukan kompetisi konsumsi. Pesan Ketum MUI untuk hindari gaya hidup konsumtif berlebihan selama Ramadhan jadi pengingat penting: nikmati nikmat Allah dengan batas, seimbangkan dunia dan akhirat. Dengan pahami dampak negatif, terapkan tips praktis, dan rasakan manfaat hidup sederhana, puasamu tahun ini bakal lebih berkah.

Yuk, mulai sekarang: buat anggaran, kurangi godaan, dan fokus ibadah. Bagikan pengalamanmu di komentar, siapa tahu inspirasi orang lain!

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *